Sekelompok sahabat Gen Z sedang asyik mengobrol di kafe, menggambarkan tren perjodohan teman atau matchmaker organik sebagai alternatif dating apps.
Lifestyle

Bye-bye Dating Apps! Kenapa Gen Z Sekarang Lebih Percaya Mak Comblang

RPF

Pernahkah kamu menghabiskan waktu berjam-jam di malam hari hanya untuk swipe left, swipe right, tapi ujung-ujungnya cuma merasa hampa? Atau mungkin kamu sudah lelah dengan siklus: match -> chat basa-basi -> ketemuan sekali -> ghosting?

Jika kamu mengangguk, selamat, kamu tidak sendirian.

Ada fenomena menarik yang sedang terjadi di kalangan Gen Z. Setelah bertahun-tahun "dikuasai" oleh algoritma Tinder, Bumble, hingga Hinge, kini jarum kompas percintaan mulai berputar balik. Tren "Friend-Matchmaking" atau perjodohan lewat teman (ya, ala 'Mak Comblang' zaman dulu) kembali naik daun.

Tapi, kenapa? Bukannya teknologi harusnya memudahkan kita? Mari kita bedah alasannya.

1. Dating App Burnout

Aplikasi kencan membuat pencarian pasangan terasa seperti belanja online. Kamu melihat foto, membaca spesifikasi (bio), lalu memutuskan. Masalahnya, ini memicu apa yang disebut psikolog sebagai "The Paradox of Choice".

Ketika pilihan terlalu banyak, kita justru jadi sulit memilih dan tidak pernah puas. Gen Z mulai menyadari bahwa menilai seseorang hanya dari 3 foto dan satu pick-up line itu sangat dangkal dan melelahkan secara mental.

2. Filter Terbaik Adalah "Bestie" Kamu Sendiri

Siapa yang paling tahu selera aneh kamu? Siapa yang tahu kalau kamu ilfeel sama orang yang makannya bunyi? Jawabannya: Teman dekatmu.

Berbeda dengan algoritma yang mencocokkanmu berdasarkan lokasi atau ketertarikan umum, temanmu mencocokkan berdasarkan karakter.

  • Trust Factor: Kamu sudah percaya pada temanmu, jadi otomatis kamu punya rasa percaya awal pada orang yang mereka kenalkan.
  • Pre-Vetted: Temanmu sudah melakukan "seleksi alam". Mereka tidak akan mengenalkanmu pada orang yang jelas-jelas red flag atau berbahaya.

3. Masalah Akuntabilitas (Bye-bye Ghosting!)

Ini adalah poin paling krusial. Di dating apps, seseorang bisa melakukan ghosting (menghilang tiba-tiba) dengan mudah karena kalian tidak punya irisan sosial alias mutual friends. Tidak ada konsekuensinya.

Namun, dalam skema perjodohan teman, ada pertaruhan sosial.

"Jika dia teman dari sahabatku, dia tidak akan berani macam-macam atau menghilang begitu saja, karena itu akan membuat situasi canggung di tongkrongan."

Adanya mutual connection menciptakan rasa tanggung jawab untuk bersikap sopan dan menghargai satu sama lain.

4. Kembalinya "Organic Chemistry"

Bertemu lewat teman, misalnya di pesta ulang tahun atau acara nongkrong bareng memungkinkan kamu melihat bahasa tubuh, cara bicara, dan energi seseorang secara langsung.

Gen Z mulai merindukan koneksi organik yang tidak dipaksakan. Ada sensasi berbeda ketika naksir seseorang secara langsung dibandingkan naksir profil digital. Itu terasa lebih manusiawi, lebih nyata, dan lebih seru.

Bukan berarti dating apps akan punah. Namun, Gen Z mengajarkan kita bahwa terkadang, cara lama adalah cara terbaik. Teknologi bisa membantu kita terhubung, tapi intimidasi dan kepercayaan adalah hal yang sulit dibangun oleh kode biner.

Jadi, kalau kamu sedang jomblo dan lelah dengan swipe layar HP, mungkin ini saatnya mentraktir sahabatmu kopi dan bertanya: "Eh, lu ada temen yang cocok sama gue gak?”