kesehatan mental

Cancel Culture di Dunia Hiburan, Hukuman Setimpal atau Terlalu Kejam?

Shabrina Esya

Di era media sosial, satu tweet lama atau video yang tersebar bisa menghancurkan karier seseorang dalam hitungan jam. Inilah cancel culture - fenomena di mana publik secara massal membatalkan dukungan mereka terhadap figur publik sebagai bentuk hukuman sosial. Dunia hiburan adalah arena paling subur untuk fenomena ini dan pertanyaannya yang terus menggantung selalu sala : apakah ini keadilan yang sesungguhnya, atau main hakim sendiri yang kebablasan?

Ketika Cancel Culture Terasa Adil

Tidak bisa dipungkiri, ada momen di mana cancel culture bekerja seperti yang seharusnya. Gerakan “MeToo membuktikan bahwa tekanan publik mampu menjatuhkan nama-nama besar yang selama bertahun-tahun terlindungi oleh kekuasaan industri. Bagi para korban yang selama ini dibungkam, ini bukan sekedar tren internet, ini adalah keadilan yang sudah lama tertunda.

Dalam kasus-kasus seperti ini, cancel culture mengisi kekosongan yang ditinggalkan sistem formal yang terlalu lambat atau terlalu berpihak pada yang berkuasa.

Ketika Ia Kebablasan

Namun wajah lain dari fenomena ini jauh lebih gelap. Banyak cancellation melibatkan kesalahan masa lalu yang diangkat tanpa konteks cuitan dari satu dekade lalu, lelucon yang tidak lagi relevan, atau pernyataan dari seseorang yang jelas-jelas sudah berubah. Komedian Kevin Hart kehilangan kesempatan menjadi host Oscar karena joke yang ia tulis lebih dari sepuluh tahun sebelumnya, meski sudah berulang kali meminta maaf.

Cancel culture tidak percaya pada kemungkinan seseorang untuk tumbuh dan berubah. Semua kesalahan diperlakukan seolah permanen dan tidak bisa ditebus. Belum lagi fakta bahwa kemarahan di media sosial sering menyebar lebih cepat dari verifikasi, tidak sedikit orang yang dihukum berdasarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Keadilan yang Tidak Merata

Yang menarik, cancel culture tidak menyentuh semua orang secara setara. Figur dengan uang, jaringan, dan fanbase yang kuat seringkali mampu bangkit bahkan kadang popularitas mereka justru meningkat setelah kontroversi. Sementara kreator kecil tanpa “pelindung” di industri bisa benar-benar habis hanya karena satu kesalahan. Alih-alih meratakan lapangan permainan, ia justru bisa mereproduksi ketimpangan yang sama dengan cara berbeda.

Siapa yang Kita Percaya untuk Jadi Hakim?

Cancel culture lahir dari frustrasi yang sah terhadap sistem yang terlalu sering melindungi yang kuat dan mengabaikan yang lemah. Dalam konteks itu, ia adalah ekspresi dari keinginan kolektif untuk dunia yang lebih adil.

Namun ketika kemarahan kolektif bergerak lebih cepat dari akal sehat, ketika tidak ada pengadilan, tidak ada pembelaan, dan tidak ada kesempatan kedua, kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah kita sedang menegakkan keadilan, atau sekadar menikmati tontonan kejatuhan orang lain?

Pada akhirnya, budaya yang benar-benar sehat bukan hanya yang berani menghukum tapi juga yang cukup dewasa untuk memberi ruang bagi pertumbuhan.