kesehatan mentalHiburan

Doomscrolling: Ketika Hiburan Berubah Jadi Kebiasaan yang Melelahkan

Shabrina Esya

Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus menggulir layar mengonsumsi berita buruk, konten negatif, atau konten apapun tanpa tujuan jelas meski sudah tahu itu bikin lelah atau cemas. Istilah ini meledak popularitasnya saat pandemi 2020, tapi perilakunya sudah ada jauh sebelum itu.

Kenapa Otak Kita Susah Berhenti?

Secara neurologi, otak manusia punya bias terhadap ancaman yang disebut negativity bias. Informasi negatif dianggap lebih penting untuk diproses demi kelangsungan hidup. Di era digital, algoritma media sosial memanfaatkan ini dengan sempurna konten yang memancing emosi kuat (marah, takut, kaget) selalu diprioritaskan karena menghasilkan engagement lebih tinggi.

Ditambah lagi, setiap kali kita scroll dan menemukan konten baru, otak melepaskan dopamin kecil. Ini menciptakan loop yang sangat mirip dengan mekanisme adiksi.

Kaitannya dengan Industri Hiburan

Di sinilah yang menarik batas antara hiburan dan doomscrolling makin kabur. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts dirancang bukan untuk ditonton, tapi untuk di-scroll. Konten hiburan yang seharusnya menyenangkan justru dikonsumsi dalam kondisi autopilot tidak benar-benar dinikmati, hanya dikonsumsi.

Akibatnya muncul paradoks: orang menghabiskan 3-4 jam sehari “hiburan” di ponsel, tapi merasa tidak terhibur sama sekali bahkan lebih kosong dari sebelumnya. Fenomena ini mulai banyak disebut sebagai “entertainment fatigue”.

Dampak Nyata yang Dirasakan

  • Sulit fokus pada konten panjang seperti film atau buku
  • Merasa gelisah saat tidak memegang ponsel
  • Tidur terganggu karena scroll sebelum tidur
  • Mood menurun tapi tetap tidak bisa berhenti

Bagaimana Respons Industri?

Ironisnya, platform yang menciptakan masalah ini mulai menawarkan solusinya sendiri fitur screen time reminder, mode grayscale, hingga “take a break” notification. Tapi efektivitasnya masih sangat dipertanyakan.