kesehatan mentalKarir & Profesional

Kenapa Karyawan Sering Pura-Pura Baik di Kantor?

Shabrina Esya

Pernahkah kamu tersenyum ke atasan sambil berkata “Baik, Pak/Bu!” padahal dalam hati penuh tekanan? Atau tetap tampil profesional di depan rekan kerja meski sebenarnya lelah dan frustrasi? Jika ya, kamu tidak sendirian. Fenomena ini sangat umum terjadi di tempat kerja di Indonesia, dan ada alasan psikologis yang kuat di baliknya.

Apa yang Dimaksud “Pura-Pura Baik” di Kantor?

Dalam psikologi, perilaku ini berkaitan erat dengan konsep “emotional labor“ kondisi di mana seseorang harus mengelola dan menyembunyikan perasaan aslinya demi memenuhi tuntutan pekerjaan atau menjaga hubungan sosial di lingkungan kerja. Karyawan menampilkan ekspresi yang “diharapkan” meskipun tidak mencerminkan kondisi emosional yang sebenarnya.


Ini bukan soal kepura-puraan yang disengaja untuk menipu. Kebanyakan karyawan melakukannya sebagai mekanisme bertahan (survival mechanism) di tengah dinamika kantor yang kompleks.

Penyebab Utama Karyawan Memilih Diam dan Berpura-Pura

1. Takut Dianggap Tidak Profesional

Banyak karyawan percaya bahwa mengeluh atau menunjukkan kelemahan emosional akan merusak citra profesional mereka. Apalagi dalam budaya kerja Indonesia yang masih kental dengan nilai menghormati atasan dan menjaga harmoni tim.

2. Tidak Ada Ruang Aman untuk Bicara

Ketika perusahaan tidak memiliki budaya keterbukaan (psychological safety), karyawan memilih tutup mulut. Mereka khawatir kejujuran justru berbalik menjadi bumerang dinilai negatif atau bahkan memengaruhi karir mereka.

3. Tekanan Performa dan Persaingan

Di lingkungan kerja yang kompetitif, menunjukkan bahwa kamu “baik-baik saja” adalah strategi bertahan. Karyawan tidak ingin terlihat lemah di hadapan rekan kerja yang bisa saja menjadi pesaing dalam promosi jabatan.

Dampak Jangka Panjang yang Perlu Diwaspadai

Menyembunyikan perasaan terus-menerus bukan tanpa konsekuensi. Beberapa dampak yang umum terjadi antara lain :

  • Burnout dan kelelahan emosional
  • Produktivitas menurun
  • Meningkatnya angka resign
  • Kesehatan mental terganggu

Cara Menciptakan Lingkungan Kerja yang Lebih Jujur

Tanggung jawab bukan hanya ada di pundak karyawan. Perusahaan dan pemimpin tim punya peran besar dalam menciptakan budaya kerja yang lebih sehat :

Untuk Karyawan

  • Temukan satu orang terpercaya di kantor untuk berbagi cerita
  • Kenali batas kemampuanmu dan berani komunikasikan secara baik-baik
  • Manfaatkan program konseling karyawan jika tersedia

Untuk Perusahaan

  • Bangun budaya psychological safety di mana karyawan merasa aman menyampaikan pendapat
  • Adakan sesi one on one rutin antara manajer dan anggota tim
  • Berikan pengakuan dan penghargaan yang layak atas kinerja karyawan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan psikologis di tempat kerja

Pura-pura baik di kantor bukan tanda kelemahan ini adalah respons manusiawi terhadap lingkungan yang belum cukup aman untuk menjadi diri sendiri.

Namun jika dibiarkan terlalu lama, dampaknya bisa jauh lebih besar dari yang dibayangkan. Sudah saatnya perusahaan dan karyawan sama-sama bergerak menuju budaya kerja yang lebih terbuka, empatik, dan berkelanjutan.