Musik

Kenapa Lagu Lawas Bisa Viral Lagi di TikTok?

Shabrina Esya

Pernahkah kamu tiba-tiba mendengar lagu lama di FYP TikTok dan langsung merasa seperti kembali ke masa kecil? Atau menemukan lagu era 90-an tiba-tiba masuk chart Spotify padahal sudah rilis puluhan tahun lalu? Fenomena ini bukan kebetulan, ada penjelasan ilmiah dan psikologis di baliknya yang dikenal sebagai efek nostalgia.

Apa Itu Efek Nostalgia dalam Musik?

Nostalgia berasal dari bahasa Yunani: nostos (pulang ke rumah) dan algos (rasa sakit). Secara sederhana, nostalgia adalah kerinduan emosional terhadap masa lalu. Dalam konteks musik, efek nostalgia terjadi ketika sebuah lagu memicu kenangan pribadi yang kuat dan ini mengaktifkan bagian otak yang sama dengan pusat kesenangan dan emosi.

Penelitian dari Journal of Consumer Psychology menemukan bahwa mendengarkan musik nostalgia bisa meningkatkan perasaan positif, mengurangi kecemasan, bahkan membuat seseorang merasa lebih “terhubung” dengan orang-orang di sekitarnya.

Mengapa Lagu Lawas Bisa Viral Lagi?

1. Algoritma TikTok Tidak Peduli Tahun Rilis

TikTok bekerja berbasis engagement, bukan kronologi. Ketika satu video menggunakan lagu lama dan viral, algoritma langsung mempromosikannya ke jutaan pengguna lain. Hasilnya? Lagu yang rilis 20 tahun lalu bisa tiba-tiba masuk trending tanpa promosi apapun dari label musik.

2. Generasi Muda “Menemukan” Musik Lama

Platform streaming seperti Spotify dan YouTube membuat semua musik dari berbagai era bisa diakses secara gratis dan instan. Generasi Z yang lahir di era 2000-an kini dengan mudah menemukan musik tahun 80-an atau 90-an dan merasa menemukan “harta karun” baru meski bagi generasi sebelumnya itu sudah sangat familiar.

3. Fenomena “Shared Nostalgia”

Media sosial menciptakan nostalgia kolektif. Ketika seseorang memposting konten bertema masa lalu estetika Y2K, foto jadul, atau lagu lawas, ribuan orang ikut merasakan kerinduan yang sama dan menyebarkannya lebih luas. Nostalgia menjadi bahasa universal di internet.

4. Dunia yang Penuh Ketidakpastian

Studi psikologi menunjukkan bahwa manusia cenderung berlari ke nostalgia ketika menghadapi stres atau ketidakpastian. Pandemi COVID-19 misalnya, menjadi katalis besar meledaknya konten bertema nostalgia di seluruh dunia orang-orang mencari kenyamanan dari kenangan yang terasa lebih aman dan menyenangkan.

Efek Nostalgia di Balik Layar Industri Musik

Fenomena ini tidak luput dari perhatian industri. Label musik dan artis kini secara strategis memanfaatkan efek nostalgia :

  • Remaster dan re-release album klasik marak dilakukan untuk menangkap pasar baru.
  • Kolaborasi lintas generasi antara artis senior dengan artis muda semakin sering terjadi.
  • Soundtrack film dan series sengaja menggunakan lagu lama untuk memancing emosi penonton sekaligus menghidupkan kembali katalog musik lama
  • Konser reuni band-band legendaris selalu kehabisan tiket dalam hitungan menit.

Apakah Efek Nostalgia Ini Buruk untuk Kreativitas?

Ada yang berpendapat bahwa terus-menerus menggali masa lalu justru menghambat lahirnya karya baru yang orisinal. Namun banyak musisi dan pakar budaya pop yang berpendapat sebaliknya nostalgia bisa menjadi fondasi kreatif yang kuat, asalkan dikombinasikan dengan elemen segar dan relevan dengan zaman.

Lihat saja bagaimana artis seperti Dua Lipa atau Bruno Mars sukses besar dengan membawa nuansa disko dan funk era 70–80-an ke dalam produksi musik modern. Hasilnya? Lagu yang terasa familiar sekaligus segar.

Efek nostalgia dalam musik bukan sekadar sentimentalitas belaka ini adalah fenomena psikologis nyata yang didorong oleh cara kerja otak manusia dan diperkuat oleh ekosistem digital yang ada hari ini. TikTok, Spotify, dan media sosial telah mengubah nostalgia dari sesuatu yang bersifat pribadi menjadi pengalaman kolektif yang bisa menyebar dalam hitungan jam.

Jadi, lain kali kamu tiba-tiba nangis mendengar lagu lama di FYP, ketahuilah itu bukan kelemahan. Itu adalah bukti betapa kuatnya musik dalam menyentuh bagian paling dalam dari memori manusia.