Mental Health

Mengapa Manusia Sulit Berubah, Meski Tahu Apa yang Benar

Shabrina Esya

Pernah nggak kamu dalam situasi seperti ini: sambil rebahan malam-malam, kamu berjanji dalam hati kalau besok mulai olahraga, kurangin gorengan, dan nggak bakal begadang lagi. Tapi besoknya? Sama aja.

Kamu nggak sendirian, hampir semua orang pernah bahkan sering ada di posisi itu. Tahu apa yang harus dilakukan, tapi nggak melakukannya. Bukan karena bodoh atau nggak punya niat. Ada alasan yang lebih dalam di balik ini semua.

1. Otak Kita Suka yang Mudah dan Otomatis

Coba bayangan otak kamu seperti asisten yang sudah kelelahan. Setiap hari dia harus ngurus ribuan hal kecil, dari cara kamu pegang sendok sampai bagaimana kamu nyetir pulang kerja. Supaya nggak kehabisan tenaga, otak punya cara pintar, dia mengubah hal-hal yang sering kamu lakukan menjadi kebiasaan otomatis.

Kebiasaan itu seperti jalan setapak di kebun, makin sering dilalui, makin dalam jalurnya, makin gampang dilewati. Nah, ketika kamu mau berubah, kamu harus membuat jalan baru - melewati semak-semak yang belum pernah diinjak. Tentu saja itu lebih berat, lebih melelahkan, dan godaan untuk balik ke jalan lama sudah nyaman itu sangat besar.

Kita bukan malas, otak kita hanya sangat ahli dalam memilih jalan yang paling hemat tenaga.

Kabar baiknya, otak manusia bisa membentuk jalur baru kapan saja. Tapi butuh waktu, butuh pengulangan, dan kesadaran. Perubahan itu mungkin, hanya saja tidak secepat yang kita harapkan.

2. Kepala Tahu, tapi Tubuh Ngga Mau Dengar

Di dalam diri kita sebenarnya ada dua suara yang sering bertengkar. Suara pertama, itu tenang, logis, dan berpikir panjang. Dia yang bilang, “Aku harus kurangin gula, ini nggak baik buat kesehatan.” Suara kedua lebih cepat, emosional, dan hidup di momen sekarang. Dia yang satu jam kemudian, langsung ambil es krim dari kulkas tanpa berpikir dua kali.

Masalahnya, suara kedua itu jauh lebih cepat bereaksi. Sebelum suara pertama sempat protes, tangan sudah keburu bergerak. Kamu sudah tahu ini, kan? Sudah tahu gorengan nggak sehat, tapi tangan tetap ambil. Sudah tahu harus tidur, tapi mata tetap melihat layar.

Pengetahuan ada di kepala, kebiasaan ada di tubuh, dan keduanya tidak selalu bicara satu sama lain