Geopolitik Timur Tengah

Perang AS-Iran Berlanjut : Ancaman Nyata bagi Ekonomi Global

Shabrina Esya

Sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, dunia menahan napas. Konflik yang awalnya disebut sebagai “operasi tempur terbatas” itu kini berkembang menjadi perang terbuka yang menyeret berbagai aktor regional. Rudal berbalas serangan udara, negosiasi berjalan di satu sisi sementara eskalasi terus terjadi di sisi lain.

Pertanyaan besar yang menghantui banyak pihak adalah: apa yang terjadi jika perang ini berkepanjangan?

1. Harga Minyak Dunia Menembus Rekor

BBM adalah titik paling rentan ketika konflik di Timur Tengah membara. Iran adalah salah satu produsen minyak terbesar dunia, dan kawasan Teluk Persia menjadi jalur distribusi energi yang vital.

Saat serangan Israel pertama kali menghantam Teheran pada Juni 2025, harga minyak Brent langsung melonjak lebih dari 10 persen dalam hitungan jam. Kini, dalam skenario perang yang berlarut, analis memperkirakan harga bisa menembus US$100 per barel, angka yang belum pernah menyentuh level itu dalam beberapa tahun terakhir.

2. Selat Hormuz : Titik Rawan yang Bisa Melumpuhkan Dunia

Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati Selat Hormuz. Garda Revolusi Iran telah memperingatkan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintas di jalur tersebut. Perusahaan pelayaran raksasa seperti Hapag-Lloyd dan Maersk sudah menangguhkan armadanya di kawasan itu.

Jika selat ini benar-benar diblokir dalam jangka panjang, rantai pasokan energi global akan lumpuh bukan hanya negara-negara Barat, tetapi juga Asia Timur dan Asia Tenggara yang sangat bergantung pada minyak dari Teluk.

3. Indonesia Paling Terdampak di Asia Tenggara

Bagi sebagian orang, perang di Timur Tengah terasa jauh. Namun bagi Indonesia, dampaknya bisa terasa langsung di dapur rumah tangga.

Indonesia saat ini mengonsumsi sekitar 1,7 juta barel minyak per hari, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 860 ribu barel, hampir 50 persen kebutuhan masih diimpor. Setiap kenaikan US$1 per barel berpotensi memperlebar defisit anggaran hingga sekitar Rp6,8 triliun. Jika harga menembus US$100, beban subsidi BBM dan LPG 3 kg bisa meledak dan mengancam APBN.

4. Inflasi Global dan Krisis Pangan Mengintai

Perang yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada energi. Ketika biaya distribusi naik, harga barang kebutuhan pokok ikut melonjak di seluruh penjuru dunia. Negara-negara berkembang yang sudah berjuang melawan inflasi pasca-pandemi akan menghadapi tekanan ganda yang jauh lebih berat.

5. Ketidakstabilan Geopolitik Jangka Panjang

Konflik Iran–AS yang berlarut berpotensi menarik masuk lebih banyak aktor regional, mulai dari kelompok Houthi di Yaman, hingga ketegangan di Lebanon dan Pakistan. Arab Saudi sendiri telah mencegat rudal balistik yang mengarah ke wilayahnya. Jika eskalasi terus terjadi tanpa gencatan senjata, kawasan Timur Tengah bisa masuk ke dalam spiral konflik yang sulit diputus dalam waktu dekat.

Perang Iran–AS bukan sekadar konflik dua negara ini adalah krisis geopolitik dengan efek riak yang menyentuh setiap negara di dunia, termasuk Indonesia. Dari harga minyak, tarif logistik, hingga stabilitas pangan, semua terhubung dalam satu rantai yang rapuh.

Semakin lama perang ini berlangsung, semakin dalam luka yang ditinggalkan bukan hanya bagi Iran dan Amerika, tapi bagi miliaran orang yang hidup jauh dari medan perang namun merasakan dampaknya setiap hari.