3 Pendekatan dalam Mempelajari Teknologi Komunikasi

Perkembangan teknologi komunikasi tentu saja menimbulkan berbagai respons masyarakat. Namanya juga respon, ada yag positif dan ada yang negatif tergantung dari sudut pandang saat memandangnya. Kaitannya dengan respons, teknologi komunikasi memunculkan berbagai pendekatan. Tentu saja, masing-masing pendektan itu berbeda, juga sangat tergantung kepentingan, latar belakang, konteks zaman dan lingkungan, dimana manusia itu berbeda.

Kaitannya dengan pendekatan atau aliran pemikiran dalam merespon atau memahami perkembangan teknologi komunikasi, pernah dikemukakan oleh Anthony G.Wilhelm. Dalam Democracy in the Digital Age: Challenge to Political Life in Cyberspace (2000), ia membaginya menjadi tiga antara lain; dystopian, neo-futuris, dan  tekno-realis (Noegroho, 2010).

Pendekatan dalam mempelajarai teknologi komunikasi(rawpixel.com)

1. Dystopian: Kritik dan Kehati-hatian

Pendekatan dystopian berasal dari kata dystopia, yang merupakan kebalikan dari utopia. Jika utopia merujuk pada gambaran masyarakat masa depan yang ideal dan cerah (seringkali dianggap khayalan), maka dystopia menggambarkan masa depan yang lebih buruk daripada masa kini.

Kelompok ini bersikap sangat hati-hati, bahkan cenderung curiga atau berprasangka negatif terhadap teknologi komunikasi. Mereka beranggapan bahwa teknologi biasanya membawa dampak negatif yang mengacaukan kehidupan sosial dan politik. Oleh karena itu, aliran dystopian gigih mengkritik dampak buruk teknologi.

Namun, aliran ini tidak sekadar mengkritik. Mereka juga berupaya menyadarkan masyarakat untuk mengembalikan kualitas-kualitas esensial yang mulai terkikis oleh teknologi. Contohnya, mereka memandang interaksi tatap muka lebih alami daripada melalui media. Tokoh-tokoh yang menganut aliran ini antara lain Edmund Husserl, Martin Heidegger, David Thoreau, Hannah Arendt, dan Benjamin Barber.

Pandangan Tokoh Dystopian:

  • Thoreau: Menyatakan bahwa teknologi hanya bersifat menolong dan tidak seharusnya diposisikan sebagai hal yang utama dalam kehidupan, di mana posisi utama seharusnya tetap dipegang oleh manusia.
  • Arendt: Menyayangkan hilangnya hubungan antarpribadi dan melemahnya hubungan politik akibat teknologi, yang juga menghancurkan ruang-ruang publik. Ia mengamati bagaimana komunikasi tidak lagi terjadi secara langsung di ruang publik, melainkan dialihkan oleh teknologi, terbukti dari maraknya penggunaan media sosial.

2. Neo-Futuris: Optimisme dan Penerimaan Tanpa Kritik

Pendekatan neo-futuris merupakan refleksi dari warisan futurisme yang tidak terkendali. Aliran ini menunjukkan keyakinan yang tidak kritis terhadap perkembangan teknologi, khususnya dalam penerimaan hal-hal baru dan teknologi berkecepatan tinggi (high speed).

Mereka percaya bahwa inovasi baru ini memiliki kekuatan besar yang mampu mengubah segalanya, serta meletakkan dasar kerja masa depan dengan penuh harapan dan optimisme. Tokoh-tokoh pendukung utama meliputi John Naisbitt, Alvin Toffler, Richard Groper, dan Nicholas Negroponte.

Contoh Pandangan Neo-Futuris:

  • Alvin Toffler: Menyatakan bahwa untuk menghindari ‘goncangan masa depan’ (ketidakmampuan manusia beradaptasi), manusia harus terus-menerus memperbaiki dan memikirkan ulang tujuan sosialnya agar sejalan dengan kemajuan.
  • Groper dan Negroponte: Menegaskan dengan optimisme bahwa “menjadi digital” adalah hal yang fundamental bagi kehidupan politik yang sehat saat ini. Hal ini mencerminkan keyakinan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh teknologi; teknologi adalah fenomena yang harus diikuti, diatur, dan bahkan menentukan arah masa depan manusia.

3. Tekno-Realis: Menjembatani Pesimisme dan Harapan

Pendekatan tekno-realis berfungsi sebagai aliran penengah antara pandangan dystopian yang pesimis dan neo-futuris yang terlalu optimis. Aliran ini berupaya menjembatani kritik atas dampak teknologi dengan harapan akan masa depan ideal yang dapat dicapai melaluinya.

Tekno-realis bersikap realistis terhadap keniscayaan teknologi, tetapi juga tidak menafikan harapan baru yang dibawanya. Mereka memandang bahwa penerapan teknologi komunikasi beserta dampaknya dalam masyarakat adalah hal yang mungkin terjadi. Namun, solusinya bukan menghindari, melainkan mengantisipasi dampak-dampaknya.

Bagi aliran ini, teknologi adalah keniscayaan, tetapi tidak perlu “didewakan”. Salah satu aspek utamanya adalah kepedulian terhadap dampak teknologi yang dianggap mencabut sisi-sisi kemanusiaan seseorang. Aliran ini menyimpulkan bahwa teknologi telah “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.”

Meskipun teknologi seperti media sosial telah sukses menghubungkan banyak pihak yang terpisah dan melancarkan lalu lintas pesan global, ia juga berpotensi menjauhkan orang-orang yang awalnya sangat dekat. Sisi kemanusiaan yang dibangun melalui interaksi tatap muka dinilai mulai memudar.

Ketiga aliran pemikiran ini terus berkembang seiring dengan evolusi teknologi dan pemahaman manusia terhadap dampaknya. Perdebatan mengenai aliran ini pada dasarnya adalah cara manusia untuk memahami teknologi dari berbagai sudut pandang, kepentingan, dan konteks. Semakin banyak aliran yang muncul, semakin terlihat adanya kepentingan manusia untuk mencapai kehidupan masa depan yang lebih baik.

Nah itu tadi tiga pendekatan dalam mempelajari teknologi komunikasi. Semoga artikel ini bermanfaat, dan jangan lupa komen dibawah ini, ya!

Sumber : Nurudin (2017) dalam buku “Perkembangan Teknologi Komunikasi”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *