Tren kerja freelance kini berubah dari sekadar alternatif menjadi pilihan utama bagi banyak orang. Tak lagi sekadar sambilan, semakin banyak generasi milenial dan Gen Z yang menjadikan freelance sebagai jalur karier penuh waktu. Dengan dukungan teknologi dan kebiasaan kerja jarak jauh yang semakin diterima, sistem kerja fleksibel membuka peluang untuk bekerja lintas kota bahkan lintas negara—cukup dari rumah.
Kamu tertarik ikut tren kerja ini? Baca dulu artikel di bawah ini, ya!
Apa itu Freelance?
Freelance merupakan salah satu jenis pekerjaan di mana seseorang bekerja secara mandiri, tidak terikat sebagai karyawan tetap pada suatu perusahaan, dan dibayar berdasarkan proyek atau hasil kerja. Gaji yang diterima jumlahnya tidak tetap, tetapi bisa dinegosiasikan per proyek. Pekerjaan jenis ini lebih fleksibel secara waktu, tempat, dan klien. Uniknya, jika dulu menjadi freelancer dianggap sebagai cadangan atau pekerjaan sampingan saat menunggu pekerjaan tetap, kini banyak orang memilih freelance sebagai pekerjaan utama—terutama bagi Gen Z dan milenial.
Kenapa Tren Kerja Freelance Makin Diminati?
Selain karena fleksibilitasnya, tren kerja freelance dipengaruhi oleh berbagai faktor. Terbatasnya lapangan pekerjaan tetap di Indonesia mendorong sebagian besar angkatan kerja mencari alternatif yang lebih realistis. Banyak yang merasa putus asa mendapatkan pekerjaan konvensional yang stabil, sehingga memilih jalur freelance.
Di sisi lain, perkembangan teknologi memperkuat ekosistem freelance. Platform seperti Fiverr, Upwork, hingga LinkedIn membuka peluang kolaborasi lintas negara, ditambah tools seperti Zoom atau Notion yang memungkinkan kerja dari mana saja. Pandemi Covid-19 juga menjadi pemicu besar yang mempercepat normalisasi kerja jarak jauh—dan menjadi peluang besar bagi freelancer.
Namun, jangan memilih pekerjaan freelance hanya karena ikut tren atau FOMO. Untuk bisa bertahan dan bersinar di dunia freelance, kamu perlu persiapan yang matang.

Strategi dan Skill yang Dibutuhkan
Ketika kamu sudah mantap terjun ke dunia kerja freelance, skill dan strategi yang baik harus kamu miliki agar tidak kalah saing dengan freelancer lain—terlebih di bidang kerja yang sama. Skill digital yang relevan bukan lagi sekadar nilai tambah, tetapi sudah menjadi keharusan. Skill yang banyak digunakan saat ini antara lain content creation, desain grafis, video editing, hingga coding.
Kamu juga perlu terus mengembangkan personal branding dan portofolio yang kuat. Setiap proyek yang kamu kerjakan sebaiknya dicatat dan dipresentasikan dalam portofolio. Networking juga sangat penting bagi freelancer. Melalui koneksi, peluang kerja akan semakin terbuka. Koneksi ini bisa kamu bangun melalui klien, komunitas freelancer, hingga platform seperti LinkedIn.
Risiko di Balik Tren Kerja Freelance
Sebelum memutuskan ikut terjun dalam tren kerja freelance, kamu harus mengetahui risiko memilih jenis kerja ini.
1. Pendapatan Tidak Tetap
Salah satu risiko paling nyata dari kerja freelance adalah tidak adanya pendapatan tetap. Freelancer bergantung pada jumlah proyek yang didapatkan. Artinya, pendapatan bisa tinggi di satu bulan, tetapi bisa juga turun drastis di bulan berikutnya—bahkan tidak ada sama sekali.
Perlu diingat pula, klien biasanya mencari freelancer yang berpengalaman. Peluang kerja bagi pemula sering kali lebih kecil. Bahkan setelah mendapatkan proyek, pembayaran bisa tertunda karena proses administrasi, revisi, atau bahkan penipuan. Ini menjadi tekanan besar bagi kebanyakan freelancer pemula, terlebih jika freelance adalah satu-satunya sumber penghasilan.
2. Tidak Ada Jaminan dan Fasilitas Pekerja
Tantangan besar lainnya saat memilih menjadi freelancer adalah tidak adanya jaminan dan fasilitas yang biasanya diterima oleh pekerja tetap. Sebagai karyawan tetap, kamu berhak atas berbagai bentuk perlindungan seperti BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, cuti berbayar, THR, hingga tunjangan pensiun. Semua itu adalah bentuk keamanan yang tidak kamu dapatkan sebagai freelancer.
Freelance memang memberikan kebebasan, tetapi juga menuntut tanggung jawab dalam pengelolaan keuangan dan perlindungan diri. Untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk, kamu perlu mulai menyiapkan dana darurat, membayar iuran BPJS mandiri, hingga menabung untuk masa pensiun. Memang tidak mudah, tapi ini bagian dari profesionalisme atas pilihan yang kamu ambil.
3. Tren Kerja Freelance Menawarkan Kebebasan dan Kesepian
Freelance sering dianggap sebagai pilihan karier ideal karena menawarkan fleksibilitas waktu, tempat, dan sistem kerja per proyek. Semuanya terlihat menyenangkan—kerja dari mana saja tanpa aturan kantor yang kaku. Namun, di balik kebebasan itu, ada kemungkinan besar kamu merasakan kesepian. Tanpa rekan kerja, tidak ada obrolan santai, tidak ada tempat bertanya saat buntu, bahkan apresiasi atas kerja keras pun hanya datang dari klien—itu pun kalau mereka ingat memberikan feedback.
Rasa kesepian ini tidak lewat begitu saja. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi motivasi dan kesehatan mental karena seluruh beban kerja ditanggung sendiri tanpa dukungan sosial. Bukan berarti freelance adalah pilihan yang buruk, tapi penting untuk sadar akan risiko ini. Membangun koneksi sosial—baik lewat komunitas, coworking space, atau sekadar ngobrol dengan sesama freelancer—bisa jadi cara sederhana tapi penting agar kamu tidak merasa sendirian di jalan yang kamu pilih sendiri.
Dunia freelance memang penuh peluang, tapi juga membutuhkan kesiapan mental, strategi, dan ketekunan. Jika kamu siap untuk menghadapi risiko tanpa jaminan gaji tetap, bekerja sendiri, dan mengatur semuanya secara mandiri—maka freelance bisa menjadi jalan karier yang penuh kebebasan dan pertumbuhan. Sehingga, freelance bukan lagi ‘plan B’, tetapi pilihan utama yang layak diperjuangkan.
Tetap semangat para pejuang! 🔥
